Selasa, Juli 30, 2013

Cinta Masa Kecil

Chankak23 : Cinta Masa Kecil - Posting Sebelumnya , Cinta Masa Kecil kita bahas sekarang.
Saat kita ber umur 7 tahun, bermain bersama, riang, mengasyikan, canda tawa, panjat pohon kelapa, masak-masakan, lucu,… dan hanya rasa bahagia yang aku rasakan, di saat itu kita masih kecil dan belum tahu apa itu CINTA, karena memang kita tak pernah ingin tahu apa itu CINTA. Namaku DESI,saya punya kisah cerita pada masa kecil ku, Inilah kisah ku :”
 
DESI, Seorang gadis kecil  berumur 7 Tahun orang pendatang di kios baru ayahnya yang berada di dekat kali banger kota pekalongan, ayah nya tukang service tipe mobil di situ, DESI gadis kecil, berambut panjang, manis dan periang, memiliki adik yang bernama IMA.
DINO, Seorang laki-laki berumur 7 Tahun, dia tinggal di belakang kios ayahnya DESI, ayah DINO seorang pemulung yang sehari-harinya bekerja di tumpukan sampah dan mencari barang-barang bekas, ibunya juga ikut dengan ayahnya, ayahnya baik hati, ramah dan menyenangkan, begitu pun ibunya, terkadang DINO ikut memulung bersama dengan  orang tuanya,
ANDI, Seorang laki-laki berumur 8 Tahun, dia tinggal di seberang kios ayahnya DESI, dia tidak punya ayah, dan menurut cerita dari ibu DESI, Dia di temukan oleh seorang perempuan yang memiliki warung di seberang kios ayah DESI, dan ibu DESI bilang dia anak seorang pelacur yang biasa melacur di bawah jembatan kali banger 6 tahun yang lalu.
KISAH DESI, DINO, & ANDI
“Desi, kamu nggak main, di belakang ada Dino, anak bapak dia seumuran sama kamu, sana main sama dino” kata bapak Dino menawarkan aku agar aku tidak kesepian menunggu kios baru ayah yang sedang di benahi dan ibu ku yang sedang memasakkan hidangan untuk ayahku, dan aku hanya menggelengkan kepala ku karena aku masih terlalu malu untuk mengatakan “iya”, ya sudah bapak mau bekerja dulu,… “Monggo Pak,….” Pamit dengan ayah ku,
 
(Berlari-lari dua orang bocah) memanggilku, “eh rambut kamu panjang ya…”kata Andi, “Apaan, jelek begitu,… tapi nggemesin” Dino yang mengejek aku, “Aku boleh ikut main?” dengan percaya diri aku menawarkan diri ku sendiri kepada mereka, “Ayooo” serempak mereka mengajakku, di bawah jembatan kali banger, aku masih agak risih dengan mereka, mereka bermain dengan asyiknya, bergelantungan di bawah jembatan yang memang bisa untuk bergelantungan, aku masih jiji untuk melihat situasi di bawah jembatan itu yang masih kumuh, mungkin karena belum terbiasa dengan keadaan seperti itu, berulang-ulang mereka menunjukan kebolahan mereka bergelantungan denagn gaya mereka, tapi aku rasa mengasyikan  juga bias bermain seperti itu saat beberapa kali aku gagal mencoba, senang, tapi baju ku saat itu benar-benar kotor, tapi apa arti kotor jika mengasyikan, satu hari itu aku habiskan dengan teman baru ku sampai sore hari. Saat selesai main, bapak Dino yang bernama Pak Ja’I member kami Pisang Goreng, enak sekali, sejak itulah aku mulai menyukai pisang goring, dan akhirnya kita berpisah untuk hari itu.
Keesokan harinya, sepulang sekolah dari SD Dasar Landung Sari 02, saya bergegas-gegas pulang seakan-akan tak sabar bertemu kembali dengan Dino dan Andi,hari kedua kami, kami habiskan waktu kami dengan bermain kapal-kapalan di sungai dan memancing, barmain serbuk kayu di dekat rumah Dino, sermandi serbuk kayu sampai badan gatal-gatal, samapi ibu ku terheran-heran, degan mainan kami, anak-anak yang nakal, hehehem 
 
Ketiga hari dan seterusnya kita selalu habiskan waktu kita bersama-sama bermain bersama, makan bersama, pernah Pak Ja’I memetikan buah kelapa muda langsung dari pohonnya dan tak lama-lama kelapa muda itu langsung tersantap habis oleh kami, sungguh menyenangkan,
 
Pernah saat-saat Aku dan Adni bermain bersama, Dino lewat di depan kami dan membawa selembar karung, “Kamu mau kemana?” Tanya aku sama Dino, “Ngrongsok ,… donk…”Kata Andi menjawab dengan tepat, “Iya desy,… kita mainya bareng kalau aku sudah selesai mulung yha…” dengan penasaran dan tak ingin Dino susah sendirian aku menawarkan diri untuk ikut bersama Dino, “Aku ikut yha Dino,… jauh nggak sih..??” “Deket ,.. des,… paling di tumpukan sampah sebelah pabrik sana..” Tebakan Andi yang selalu benar, “Jangan Desi,… aku takut kalau kamu di marahin ayah kamu”… Takut Dino seakakn-akan meragukan kekuatanku, “Diam-diam dong,.. jangan bilang-bilang ya Ndi,.. aku ikut Dino…” suruh ku kepada andi, “Enak aja,… aku di tinggal? Aku ikut dong,.. masak kalian tega sih meninggalkan aku sendiri.” Dengan wajah melasnya Andi. Diam kita bertiga, “Terus,… kenapa kita masih di sini,.. ayo dong,… kapan lagi mau di mulai,.. keburu malem lo,..” tak sabar aku ingin membantu Dino mulung tanpa berfikir aku akan kotor dan lain sebagainya, “Tumben Ndi,.. kamu ikut aku mulung,… biasanya juga kamu takut sam cacing” heran Dino kepada Andi, “Iya,..  aku gak mau aja kalian bersama sedangkan aku di tinggal sendirian,..” pembicaraan kita di sela-sela perjalanan menuju tumpukan sampah.
 
Sesampai di tumpukan sampah,.. sungguh gigihnya Dino mencari kardus-kardus bekas aku dan andi membantu mencari botol-botol bekas dan selanjutnya setelah semua sudah terkumpul aku dan andi di ajak ke perhitungan penghasilan hasil mulung Dino hari itu, saat di timbang kita mendapa uang Rp.9.000,- wah,… betapa senangnya kita pada waktu itu, dan tak sungkan Dino menjajakan aku dan Andi Pisang goreng dan Es teh,.. dia masih mengkantongi uang Rp.6000,-.
 
“kok bau, apa gitu ya,…” heran ibu kepada ruangan yang agak bau,.. aku hanya tersenyum tipis,… “Des,.. dari mana kamu???”Tanya ibu kepada ku, “ikut Dino,…” kemana? “mulung barang bekas” “Apa,…. Pantes bau ,… sana mandi” “hehehe ”malu aku di katakana bau,
 
“Desi jangan main jauh-jauh di dalam rumah Pak Ja’I saja,” aku menganut ibu ku yang bilang jangan main jauh-jauh aku dan andi main bersama di sumur Dino yang keliatan menyenangkan untuk bermain, sedangkan Dino ikut ibunya mulung, pada saat itu aku sudah kekurangan air untuk bermain,aku bertekat diri untuk menimba di sumur itu, tanpa ku sadari dari kejauhan ayah ku melihat aku masih menimba,… bapak langsung melotot dan marah kepada aku,.. “ Desi… lepaskan,… jangan pegang timba itu,.. awas yah,….” Aku langsung lari karena takut ayah akan menghajarku ,…  dan dari Kios ayah mengejarku dengan kencang dan akhirnya aku terkena juga, Andi tak membela ku,… padahal andi yang menyuruh ku menimba, aku8 hanya menangis saat itu sampai aku tertidur di kios ayah, “Pak Ndon,.. Desi ada” Tanya Dino kepada ayah ku, “masih tidur dino,.. sana samperin aja”. Aku di bangunkan dino, “Desi,… tadi kenapa,.. katanya kamu nangis,..??” Tanya dino mungkin dino sudah tau ceritanya dari orang-orang, “ndak papa”…
 
“Aku mau pulang ke rumah dino,… sudah jam 4 ,…” Pamit ku,.. mau pulang kerumah dari kios tempat kerja ayah, “ Aku boleh ikut? Aku pengen tahu rumah kamu,” “eem,… boleh ,…”
“Yeess,….” Dari belakang pintu andi teriak, “ Andi kok di situ”.. Tanya ku heran karena tiba-tiba muncul “seneng bisa main ke rumah kamu” dengan malu-malu, “pasti rumah kamu bagus” kata Dino yang memuji ku, “Tidak juga,.. rumah ku sama kok sama rumah kalian,.. bias untuk berteduh” lalu ibu Dino juga ikut kami langsungkan ke rumah ku bersama dengan ibuku, dari situlah aku dekat dengan salah satu mereka, Andi,.. dia Manis dan pintar,.. dia bercita-cita bias sekolah dengan aku, bersama, berangkat sekolah bersama saat SMP, SMA, dan kuliah bersama,.. dan kita hanya saling tersenyum bertatapan muka. 
 
Bersenang ria kita selalu bersama, namun ada perpisahan dari kami saat aku melihat warung sekaligus tempat tinggal andi yang di bongkar, aku seakan-akan bertanya-tanya akan kemanakah andi? Sehingga rumahnya harus di bongkar seperti itu, namun menyesalnya aku karena andi tak sempat pamit dengan ku karena keberangkatanya pagi hari saat aku masih ada di sekolah, Dino yang ber cerita ke aku kalau andi pindah kejakarta untuk selamanya, sedih ,.. kami berdua menangis bersama,… padahal waktu kemarinya dia sudah berjanji akan bersama sekolah bersama,… namun kepergian andi tak dapat ku mengerti kenapa, sampai detik itu pun aku tak tahu kemana andi, akhirnya sepi di situ hanya aku dan Dino, kami tak lagi selalu bercanda setiap saat, karena pada waktu itu aku sudah sibuk dengan sekolah ku, namun dia yang masih pada nasibnya tidak bias meneruskan sekolahnya, pada saat itu Dino berubah, dia tidak seperti dulu yang selalu menjadikan pekerjaannya sebagai motivasinya untuk belajar dari kehidupanya, aku sangat salut dengannya, namun semua itu berubah, dia menjadi anak yang nakal yang tidak bias di atur, saat itu dia tinggal hanya bersama ayahnya, karena ibu nya ke desa asal mereka di Tegal, ibunya menemani kakak perempuanya yang ada di Tegal, ayahnya tetap menjadi pemulung di sini, dia menjadi anak yang tidak berguna, dia patah semangat, persahabatan kita mulai pudar karena aku sudah tidak suka dengan sifat nakalnya dia yang suka menjaili orang dan berkelahi, aku seakan-akan kecewa dengannya.
 
Beberapa bulan aku tak melihatnya, dia seakan-akan menghilang bagai di telan bumi, hanya ada ayahnya di sana, “Pak,.. Dino kemana?” “Dino sudah pulang ke Tegal,.. nyusul Ibu nya” jelanya ayah Dino kepada ku, “ Bapak nggak ikut?” Tanya aku pada Pak Ja’I “Enggak,.. Bapak belum punya sangu” jelaskan pak Ja’I lagi, “Tapi mungkin setelah Bapak ke Tegal, kita tidak akan pylang ke Pekalongan lagi… Desi baik-baik ya di sini kejar cita-cita Desi,..” . Seakan-akan air mata ku menetes,.. aku tak tahan ,.. menahan air mata,.. betapa lamanya kisah kami bertiga yang pernah kita lewati bersama-sama ,.. kisah-kisah indah dan menyenangkan seakan ku ingat kembali,… Tuhan ,.. akan kah Engkau pertemukan kami kembali,.. aku sangat merindukan mereka seperti yang dulu,… setelah beberapa hari Pak Ja’I Juga telah meninggalkan Kota Pekalongan.
 
Sepi,… saat aku Kelas 6 SD ,.. aku sudah memikirkan kemana aku akan masuk SMP,.. dan jalan yang aku lewati pergi ke SMP , yaitu daerah dimana aku selalu bermain bersama dengan Andi dan Dino, kini tempat yang biasa dimana Dino dan keluarganya memulung barang bekas sudah menjadi gedung pabrik,… tapi biarlah itu menjadi kenangan kami ber tiga,.. andaikan kalian sudah besar ,… dan sudah seumuran denganku,.. kita bias bertemu lagi,.. entah kapan dan dimana tempatnya,.. aku sangat merindukan kalian ,..
 

Demikianlah posting tentang Cinta Masa Kecil Semoga bermanfaat.
Comments :

Ada 0 komentar pada tutorial tentang Cinta Masa Kecil


Posting Komentar

Copyright © 2013 - Chankak23 Supported By Info Rinaldi - Zona Goal | Powered by Blogger.